Orang yang baru pindah ke Yogyakarta biasanya cepat menyadari satu hal: ritme hidup di kota ini terasa berbeda. Tidak terlalu terburu-buru, tidak terlalu agresif, dan sering kali lebih tenang dibanding kota besar lain seperti Jakarta atau Surabaya.
Dari obrolan panjang di angkringan sampai cara orang menghadapi masalah, budaya santai Jogja terasa hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, budaya itu bukan sekadar stereotip. Ada filosofi Jawa yang sejak lama membentuk cara hidup masyarakat Jogja, mulai dari
- Nrimo ing pandum
- Alon-alon waton kelakon
- Memayu hayuning bawono
Filosofi-filosofi inilah yang membuat Jogja sering dirindukan banyak pendatang—meski di sisi lain juga dianggap terlalu lambat oleh sebagian orang.
Nrimo Ing Pandum: Tidak Semua Hal Harus Dikejar
Salah satu filosofi Jawa yang paling sering terdengar adalah nrimo ing pandum. Banyak orang luar salah memahami filosofi ini sebagai bentuk pasrah total. Padahal maknanya jauh lebih dalam.
Nrimo ing pandum bukan berarti menyerah pada hidup, tapi menerima hidup tanpa terus-menerus dikuasai ambisi dan rasa kurang.
Karena dalam budaya Jawa, hidup yang terlalu “ngoyo” dianggap bisa membuat manusia kehilangan ketenangan batin. Maka tidak heran kalau banyak orang Jogja terlihat lebih tenang menghadapi masalah.
Bukan karena hidup mereka mudah, tapi karena ada budaya untuk tidak selalu bereaksi secara meledak-ledak terhadap keadaan.
Buat sebagian pendatang, filosofi seperti ini terasa menenangkan. Tapi buat sebagian lain, budaya menerima keadaan kadang dianggap terlalu permisif dan membuat orang kurang agresif mengejar perubahan hidup.
Alon-Alon Waton Kelakon: Pelan-Pelan Asal Sampai
Filosofi lain yang sangat melekat dengan Jogja adalah alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan asal terlaksana.
Kalimat ini sering dijadikan simbol budaya Jogja yang lambat. Kadang bahkan jadi bahan candaan pendatang yang frustrasi karena urusan terasa terlalu santai.
Tapi bagi masyarakat Jawa, filosofi itu sebenarnya bicara tentang kehati-hatian dan kestabilan. Bahwa hidup tidak harus dijalani seperti sprint tanpa jeda.
Mungkin itu sebabnya orang Jogja cenderung tidak terlalu agresif dalam banyak hal. Mereka tidak mudah memotong pembicaraan. Tidak terlalu suka konflik langsung. Bahkan saat marah pun, sering kali disampaikan lewat bahasa yang sangat halus.
Dan di era ketika semua orang berlomba menjadi paling cepat, Jogja masih menyisakan budaya untuk berjalan lebih pelan tanpa merasa kalah.
Memayu Hayuning Bawono: Menjaga Harmoni Kehidupan
Budaya santai Jogja juga sangat dipengaruhi filosofi memayu hayuning bawono, gagasan tentang menjaga harmoni dunia dan membuat hidup tetap berjalan dengan tenang.
Filosofi ini membuat masyarakat Jawa, khususnya Jogja, cenderung menghindari konfrontasi terbuka demi menjaga keseimbangan sosial.
Makanya orang Jogja sering:
- bicara halus
- menghindari nada tinggi
- dan memilih menyampaikan ketidaksukaan secara tidak langsung
Kadang itu terasa hangat dan menenangkan. Tapi kadang juga terasa melelahkan karena banyak hal tidak pernah benar-benar dibicarakan secara terbuka.
Buat orang yang terbiasa hidup di kota seperti Surabaya yang lebih lugas dan frontal, budaya komunikasi Jogja bisa terasa membingungkan. Karena konflik sering bergerak diam-diam, lewat kode dan perubahan sikap yang sangat subtil.
Meski begitu, budaya santai Jogja bukan berarti hidup di kota ini tanpa tekanan. Banyak warga tetap harus bertahan dengan biaya hidup yang naik dan UMR yang relatif rendah. Hanya saja, Jogja punya cara berbeda dalam menghadapi hidup: tidak terlalu meledak-ledak dan tidak selalu merasa harus berlari.
Mungkin itu juga yang membuat banyak pendatang akhirnya betah. Setelah lama hidup di kota yang serba cepat, Jogja terasa seperti ruang bernapas. Orang masih bisa duduk lama di angkringan, menikmati hujan sore, atau menjalani hari tanpa terus merasa dikejar waktu.
Tapi tidak semua orang cocok dengan ritme seperti ini. Sebagian pendatang justru merasa Jogja terlalu lambat, kurang efisien, dan kadang terlalu santai dalam urusan pekerjaan maupun waktu.
Apalagi sekarang Jogja juga mulai berubah. Area seperti Seturan, Babarsari, dan Condongcatur semakin padat dan urban. Coffee shop penuh laptop, jalanan makin macet, dan ritme kota perlahan ikut bergerak lebih cepat.
Meski begitu, Jogja masih menyimpan sesuatu yang semakin langka di banyak kota besar: perasaan bahwa hidup tidak harus selalu terburu-buru.
Penutup
Budaya santai Jogja pada akhirnya bukan sekadar stereotip, tapi bagian dari cara hidup yang dibentuk oleh filosofi Jawa dan ritme sosial masyarakatnya. Dari nrimo ing pandum sampai alon-alon waton kelakon, semua membentuk karakter Jogja yang berbeda dibanding banyak kota besar lain di Indonesia.
Beberapa hal yang membuat budaya Jogja terasa khas:
- hidup tidak selalu dijalani dengan terburu-buru
- hubungan sosial masih dianggap penting
- orang cenderung menghindari konflik langsung
- ketenangan batin sering dianggap sama pentingnya dengan pencapaian hidup
- ada ruang untuk menikmati hidup tanpa terus merasa harus produktif
Tapi di sisi lain, budaya ini juga tidak selalu cocok untuk semua orang.
Sebagian pendatang merasa Jogja:
- terlalu lambat
- kurang efisien
- dan kadang sulit mengikuti ritme kerja modern
Apalagi sekarang Jogja juga mulai berubah menjadi lebih urban, terutama di area seperti Seturan, Babarsari, dan Condongcatur.
Meski begitu, Jogja masih menyimpan sesuatu yang semakin langka di banyak kota besar: perasaan bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tergesa-gesa.
Artikel Terkait
-
Area di Jogja yang Sering Jadi Tujuan Slow Living: Dari Bantul sampai Kaliurang
Beberapa area di Jogja terkenal cocok untuk slow living karena suasananya tenang dan tidak terlalu padat. Ini rekomendasinya.
-
Cara Memilih Kos di Jogja: Antara Budget, Jarak Kampus, dan Kecenderungan Pribadi
Memilih kos di Jogja tidak bisa asal murah. Budget, jarak, lingkungan, dan gaya hidup sering menentukan nyaman tidaknya merantau.
-
Gentrifikasi: Alasan Mengapa Biaya Hidup di Jogja Makin Gila
Gentrifikasi di Jogja terlihat dari munculnya cluster, kafe, dan kos modern di tengah kampung. Apa dampaknya bagi warga lokal?