Aku awalnya datang ke Yogyakarta cuma untuk kuliah. Niatnya sederhana: lulus, cari kerja, lalu pindah ke kota lain.
Tapi makin lama tinggal di sini, makin terasa susah pergi. Dan ternyata, banyak orang mengalami hal yang sama. Banyak perantau datang ke Jogja dengan niat sementara, lalu diam-diam bertahan jauh lebih lama dari yang mereka rencanakan.
1. Ritme Hidup yang Terasa Lebih Manusiawi
Hal pertama yang paling terasa waktu tinggal di Jogja adalah ritme hidupnya. Jogja terasa lebih pelan dibanding banyak kota besar lain.
Orang-orang tidak terlalu terburu-buru, atmosfer sosialnya juga tidak sekeras kota metropolitan. Masih ada waktu untuk nongkrong, mengobrol, atau sekadar menikmati hari tanpa merasa terus dikejar-kejar. Bahkan jalanan yang macet pun terasa tidak terlalu agresif dibanding Jakarta atau Surabaya.
Ritme semacam ini juga tidak lepas dari filosofi Jawa yang masih cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti alon-alon waton kelakon, nrimo ing pandum, atau hamemayu hayuning bawana. Tentu setiap budaya punya sisi positif dan negatifnya masing-masing. Tapi buat banyak perantau, suasana hidup seperti ini justru membuat Jogja terasa nyaman untuk ditinggali. Dalam banyak hal, rasanya mirip dengan konsep modern seperti work-life balance.
2. Suasana Sosialnya Membuat Perantau Cepat Nyaman
Salah satu hal yang aku takutkan saat merantau adalah kesepian. Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, yang mungkin secara sosial dan budaya jauh berbeda dari lingkungan asalku. Dan untungnya, Jogja justru terasa ramah untuk orang asing.
Aku pernah kenal teman baru dari warmindo, ngobrol random di angkringan sampai malam, atau tiba-tiba diajak nongkrong habis nugas. Jalan santai pagi-pagi, kenalan sama suami-istri orang setempat di dekat kos, tiba-tiba ngobrol ngalor-ngidul sampai 1 jam. Hal-hal kecil seperti itu yang akhirnya membuat Jogja terasa hangat.
Karena kota yang nyaman bukan cuma soal tempat tinggal, tapi soal apakah kita merasa diterima di dalamnya.
3. Hidup Sederhana di Jogja Masih Terasa Mungkin
Salah satu alasan terbesar kenapa banyak orang bisa lama tinggal di Jogja tentu soal biaya hidup. Walaupun sekarang mulai naik, Jogja masih terasa lebih ramah dibanding banyak kota besar lain.
Di Jogja, aku masih bisa makan secara layak dan enak tiap hari, dengan harga yang relatif murah. Nongkrong hanya memesan segelas es teh Rp.3000 dan 2 gorengan @Rp.1000an untuk berjam-jam. Di cofee shop yang agak elit, Rp.30.000 untuk nongkrong dan wifi sepuasnya. Banyak hal menyenangkan yang masih bisa aku lakukan di Jogja bahkan saat bokek sekalipun.
Ketika biaya hidup tidak terlalu menekan dan ritme hidup terasa lebih santai, orang jadi punya ruang untuk menikmati hidup.
4. Menemukan Alasan Tepat untuk Menetap di Jogja
Ada yang akhirnya menemukan pasanga dan membangun keluarga, membuka usaha, atau sekadar merasa hidup di Jogja lebih tenang dibanding kota besar lain.
Ada juga yang akhirnya berkumpul bersama orangtua nya, karena mereka ingin menghabiskan sisa masa tua setelah pensiun di Jogja.
Bahkan tidak sedikit yang akhirnya kembali lagi ke Jogja setelah sempat pindah ke kota lain. Karena buat banyak orang, Jogja bukan cuma kota singgah. Tapi kota pulang.
5. Tapi Jogja Juga Tidak Selalu Ideal
Tentu saja tinggal di Jogja bukan berarti semuanya indah. Kota ini juga berubah cepat. Cuaca terasa makin panas, jalan mulai macet, harga kos naik, dan peluang kerja sering dianggap tidak sebesar kota metropolitan.
Belum lagi bicara masalah UMR, di mana Jogja merupakan salah satu terendah di Indonesia.Tapi setiap mencoba membandingkan dengan kota lain, selalu ada satu hal yang terasa hilang: rasa nyaman.
Kesimpulan
Pada akhirnya, alasan banyak orang betah tinggal di Jogja karena Jogja memberi sesuatu yang mulai sulit ditemukan di banyak kota besar: ritme hidup yang terasa lebih manusiawi.
Beberapa hal yang membuat banyak perantau akhirnya nyaman tinggal di Jogja:
- ritme hidup lebih pelan
- suasana sosial terasa hangat
- biaya hidup relatif ramah
- budaya nongkrong dan komunitasnya kuat
- dan suasana hidup yang terasa lebih tenang
Mungkin itu alasan kenapa banyak orang datang ke Jogja dengan niat sementara, lalu diam-diam menetap lebih lama dari yang mereka rencanakan.
Artikel Terkait
-
Filosofi Hidup Orang Jogja: Kenapa Budaya Santainya Bikin Banyak Pendatang Betah?
Filosofi Jawa seperti nrimo ing pandum dan alon-alon waton kelakon membentuk budaya santai orang Jogja.
-
Area di Jogja yang Sering Jadi Tujuan Slow Living: Dari Bantul sampai Kaliurang
Beberapa area di Jogja terkenal cocok untuk slow living karena suasananya tenang dan tidak terlalu padat. Ini rekomendasinya.
-
Cara Memilih Kos di Jogja: Antara Budget, Jarak Kampus, dan Kecenderungan Pribadi
Memilih kos di Jogja tidak bisa asal murah. Budget, jarak, lingkungan, dan gaya hidup sering menentukan nyaman tidaknya merantau.